Career Talk

Inilah Sebab Fresh Graduate Sulit Mendapatkan Pekerjaan

Akhirnya selesai juga masa perkuliahan. Akhirnya punya gelar di belakang nama. Akhirnya wisuda. Akhirnya ada lagi satu hal yang bisa bikin orang tua bangga. Akhirnya.

Tapi habis “akhirnya”, apa lagi? Setelah balon, buket bunga, boneka dan kado-kado lain dari orang-orang terdekat, apa lagi?

Bagi kamu yang keputusannya sudah matang untuk mencari pekerjaan, pasti sudah familiar dengan kalimat, “dunia kerja itu keras,” apalagi kalau kamu sudah mulai mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Bahkan sebelum secara resmi bekerja, kamu sudah merasakan sulitnya bersaing di dunia profesional—tidak menemukan lowongan pekerjaan yang diinginkan, lamaran diabaikan, atau ditolak setelah wawancara.

Apakah kamu salah satu dari fresh graduate yang sulit mendapatkan pekerjaan? Mungkin alasan-alasan berikut adalah penyebabnya.

Kurang pengalaman

Setiap bulan saja, ada ratusan mahasiswa Indonesia yang berhasil lulus meraih gelar sarjana. Kebayang ga, ratusan orang ini berlomba-lomba mencari pekerjaan yang lowongannya sangat terbatas? Memang sih, cukup banyak perusahaan yang menerima karyawan dengan kualifikasi fresh graduate. Tapi, seberapa banyak fresh graduate lain yang menjadi saingan kamu untuk mendapatkan posisi itu?

Yang bisa kamu lakukan adalah menonjolkan hal-hal yang membuat kamu berbeda dari pelamar yang lain. Salah satu hal yang diperhitungkan adalah nilai tambah—yang biasanya dilihat dari pengalaman, baik pengalaman kerja (part-time, freelance, magang) atau organisasi. Apakah kamu sudah punya? Kalau belum dan kamu merasa sudah terlambat untuk mengikuti magang dan organisasi kampus, jangan khawatir. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan magang bagi fresh graduate, dan bahkan ada banyak organisasi atau LSM untuk kamu bergabung! Ya, memang banyak kok yang bisa kamu lakukan selagi menunggu panggilan kerja di posisi full-time.

Terlalu selektif

Kamu tertarik untuk bergabung dalam tim high-end di perusahaan internasional dan cuma melamar ke perusahaan-perusahaan yang sudah punya nama? Atau kamu cuma mau melamar untuk posisi yang kamu inginkan selama ini? Hmm, tidak ada yang salah dengan fokus ke pekerjaan impian. Tapi mungkin, kamu bisa fokus melalui cara lain.

Inti dari solusi yang ingin saya berikan cuma satu: toleransi. Kamu perlu bertoleransi dengan situasi bahwa untuk mendapatkan pekerjaan impian, kamu mungkin harus detour dulu ke perusahaan-perusahaan kecil seperti startup, atau posisi-posisi lain yang keterampilannya bisa kamu ambil untuk menunjang karier di masa depan, atau bahkan menjadi karyawan magang. Sebagai fresh graduate, yang perlu kamu lakukan adalah memperbanyak pengalaman dan keterampilan agar kamu bisa memiliki karier yang diinginkan. Tidak perlu mendapatkan pekerjaan impian sekarang, asalkan kamu tetap di jalur yang tepat untuk itu. Atau mungkin, dari pengalaman-pengalaman kamu ini, kamu bisa menemukan bahwa ada pekerjaan lain yang kamu juga bisa lakukan, yang juga berpeluang memberi kamu jenjang karier yang menjanjikan. Kamu masih muda. Eksperimen sedikit dengan diri sendiri tidak ada salahnya kok.

Tidak terlalu percaya diri atau terlalu percaya diri

Masalah yang seringkali dihadapi oleh fresh graduate adalah tidak terlalu bisa menunjukkan potensi diri di CV, cover letter atau sesi wawancara karena terlalu rendah hati meskipun mereka memiliki kualifikasi yang tepat untuk itu, atau terlalu menunjukkan kemampuan mereka sehingga terkesan arogan.

Ini memang salah satu masalah yang paling tricky. Oleh karena itu, kadar kepercayaan diri yang tepat sangat dibutuhkan. Untuk kamu para kandidat yang rendah hati, jangan sampai menjadi rendah diri dan lupa bahwa di sini kamu sedang melakukan marketing atas jasa profesional kamu. Jangan malu-malu, segan atau takut untuk menunjukkan kalau kamu bisa melakukan pekerjaan di posisi tersebut. Sebaliknya, kalau kamu adalah orang yang percaya diri, ingat untuk menggunakan kosa kata yang terdengar humble, dan menyebutkan hanya hal-hal yang relevan dengan pekerjaan yang kamu lamar.

Coba deh, minta bantuan teman kamu untuk membaca CV dan cover letter kamu, serta untuk berlatih wawancara. Jadi, teman kamu bisa memberikan masukan mengenai kesan yang kamu berikan dalam pembawaan dan tulisan kamu.

Kurang jaringan

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan orang-orang yang bilang, “Kalau tidak punya link, dapat kerja akan susah.” Kenapa susah? Pertama, informasi tentang lowongan yang kamu dapat lebih sedikit. Kedua, kesempatan kamu untuk mendapatkan surat referensi atau rekomendasi ketika melamar kerja menjadi lebih terbatas.

Fresh graduate umumnya memang belum memiliki jaringan seluas orang-orang yang sudah bekerja. Kurangnya kesempatan untuk bertemu para profesional menjadi salah satu faktor penyebabnya. Untungnya, saat ini kamu bisa memperluas jaringan dengan lebih mudah. Ada media sosial seperti LinkedIn yang bisa menjadi platform untuk kamu menghubungi alumni kampus agar kamu bisa memperoleh informasi pekerjaan, atau bahkan direkomendasikan ke perusahaannya. Kamu juga bisa mulai memperluas koneksi sampai ke para profesional yang memiliki karier seperti yang kamu inginkan. Siapa tahu, profil kamu dilirik oleh mereka! Selain itu, kamu bisa ikut konferensi atau seminar yang berkaitan dengan bidang yang kamu minati. Cukup banyak konferensi atau seminar seperti ini yang terbuka untuk umum. Sambil networking, kamu bisa dapat pengetahuan baru. Ayo, mulai cari-cari informasinya!

Tidak memperhatikan kualifikasi yang diminta oleh perusahaan

Banyak kandidat yang melamar suatu pekerjaan tanpa membaca dengan detail atau sengaja mengabaikan ketentuan dari perusahaan. Jika itu terjadi, jangan heran jika mereka balas mengabaikan lamaran kamu.

Untuk mengatasi masalah ini sudah jelas, bukan? Mulailah membaca dengan rinci kualifikasi apa saja yang mereka cari dari seorang kandidat. Sangat kecil kemungkinan mereka merekrut seseorang yang sedang tidak dibutuhkan di perusahaan. Jangan lupa juga untuk memperhatikan persyaratan apa saja yang dibutuhkan untuk melamar. Siapkan segala berkas secara detail dan spesifik.

Langkah pertama untuk mencari solusi dari sebuah masalah adalah dengan mengakui bahwa ada masalah. Nah, dari poin-poin di atas, mana yang kemungkinan menjadi masalah kamu?

Umumnya, semua penyebab ini masih bisa tertangani jika kamu memiliki semangat untuk terus mencari pekerjaan. Hasil memang tidak akan pernah mengkhianati usaha.

Sekarang, salah satu usaha yang bisa kamu lakukan adalah memperbaiki CV dan cover letter kamu. Apakah kedua berkas ini sudah cukup “menjual diri” kamu? Apakah kemampuan dan passion kamu sudah cukup kelihatan? Kamu juga bisa sekalian mempersiapkan diri menghadapi wawancara. Jadi ketika waktunya tiba, kamu tidak terlalu gugup dan panik, lalu mengacaukan kesempatan di depan mata.


*diterbitkan juga di Glints

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s